Thursday, 28 January 2010

i feel ALIVE

Do you know one of those moments when...
you're super-busy, super-tight-schedule, super-no-time-for-craps?

Do you remember how
you would feel so tired afterwards, head so full of new appointments and reports to make...
and perhaps new strangers to contact?

Do you remember how
when you get out to the street
the clouds are hanging low and the sky is all golden?

Do you remember how
during those times that people need you, demand you,
that you're lost in a jungle of jobs
that you love and that love you back
......
you actually feel LIBERATED?

you actually think, "hey this is myself!"

and you truly, truly feel ALIVE?



~Anna


Read more...

Saturday, 19 December 2009

Perahu Kertas


Inilah karya pertama Dewi Lestari (Dee) yang saya baca, setelah mengikuti tulisan-tulisannya yang bernas di blognya (tapi belum pernah membaca tulisan cetaknya. What a shame). Yang saya baca dari ulasan orang-orang, "Perahu Kertas" sedikit berbeda dari buku-buku Dee sebelumnya, lebih ringan dan agak berbau chicklit, namun masih memiliki penjiwaan dan penceritaan khas Dee.

Setelah saya baca, saya harus mengatakan, saya tidak setuju. Paling tidak, tidak setuju dengan pendapat bahwa "Perahu Kertas" berbau chicklit. Memang isinya tentang kisah cinta, tetapi banyak sekali kisah cinta yang tidak tergolong chicklit, seperti Romeo and Juliet, Love in the Time of Cholera, Rama Sinta, dan buku-buku Jane Austen. "Perahu Kertas" adalah salah satunya.

"Perahu Kertas" bercerita tentang cinta sejati antara tokoh Keenan dan Kugy. Kugy yang gemar menulis dongeng anak-anak bertemu dengan Keenan yang pelukis handal secara tidak sengaja di stasiun. Sejak awal sudah nyata kecocokan antara mereka berdua, terutama karena Keenan dapat mengimbangi imajinasi gila Kugy, dan Kugy mendukung sepenuh hati mimpi Keenan yang ingin bisa mandiri dari melukis. Kedua-duanya pun bisa saling menginspirasi satu sama lain.

Shakespeare pernah berujar: "The road to true love never did run smooth". Demikianlah yang terjadi pada Keenan dan Kugy. Hambatan demi hambatan terus berdatangan: pacar masing-masing, kesibukan, dan karier. Berulang kali mereka mendekat lalu menjauh, kadang-kadang begitu dekat, dan nyaris saja... Namun muncul sesuatu yang lain yang memisahkan mereka lagi.

Inti dari "Perahu Kertas" adalah mimpi, yaitu sulitnya berpegang dan menghidupkan mimpi-mimpi kita. Seringkali kita harus berkorban. Seringkali kita mesti berani meninggalkan comfort zone an terbang menghadang ketidakpastian. Dan seringkali, tak terelakkan pula sayatan-sayatan pada hati. Semua itu, sering, demi memecahkan dilema besar: Jika kita mencoba meraih mimpi, kita tak pernah tahu apakah kita akan berhasil. Jika tak mencoba, kita pun tak akan pernah tahu juga. Inilah Kugy dan Keenan, masing-masing dengan mimpinya, bertekad melangkah sejauh takdir mengizinkan.

Tidak cuma itu. Dee memperkuat ceritanya dengan banyak perenungan lain. Cinta sejati versus cinta yang dibuat-buat. Pergaulan sosial. Persahabatan. Keberanian untuk merelakan. Tak ada satupun halaman yang membosankan. Semuanya apik, semuanya cantik, semuanya menyentuh hati. Dee berhasil merangkai kisah yang mampu membangkitkan kenangan-kenangan pribadi dan harapan-harapan hidup, yang mungkin telah sirna atau sempat dipendam dalam kepahitan.

Saran saya, jangan melihat "Perahu Kertas" dari sisi romansanya saja. Dalamilah karakter-karakternya yang menarik. Carilah kristal di dalamnya.

~Anna


Read more...

Monday, 14 December 2009

Sarjana yang bukan Sarjana


Apa itu, "sarjana yang bukan sarjana"?

Bagaimana mungkin "sarjana bukan sarjana"?

Permenungan kali ini didapat dari sebuah nasehat kecil dalam keluarga saya yang didapat dari mama: "Sarjana itu orang yang tahu harus mencari di mana." Katanya, mama saya mendapatkan petuah ini dari dosennya dulu, dan sekarang ini saya telah menyadari kebenarannya.

"Sarjana" menurut KBBI adalah (1) orang pandai (ahli ilmu pengetahuan); (2) gelar strata satu yang dicapai oleh seseorang yang telah menamatkan pendidikan tingkat terakhir di perguruan tinggi. Inilah definisi yang umum digunakan dan dimengerti sehari-hari ketika kita menyebut seseorang "sarjana".

"Sarjana" dalam arti filosofis mempunyai arti yang sedikit berbeda. "Sarjana" adalah orang yang tahu harus mencari di mana. Dia tidak harus (may or may not be) pandai menurut ukuran akademis. Dia tidak harus mempunyai gelar sarjana. Dia tidak perlu tahu segala. Akan tetapi, dia tahu di mana dan/atau bagaimana memperoleh informasi tertentu, bahkan mungkin saja dia dapat mengarahkan teman-temannya yang lain meskipun dia sendiri tidak "tahu". Jujur, saya tidak tahu ini filosofinya siapa, apakah murni filosofi pemikiran dosennya mama saya itu, tetapi harus diakui cukup menarik.

Misalnya, seorang sarjana sejati (dalam arti filosofis), jika ditanya di mana membeli sepatu, maka ia akan menjawab: "Di toko sepatu." Jika ditanya bagaimana cara memasak, maka meskipun ia tidak mengerti persis, ia akan menjawab, "Yang pasti harus ada wadahnya dan ada sesuatu yang panas, entah api, bara, atau sinar matahari yang cukup."

Terlalu sederhana?

Bagaimana dengan ini:

X: "Eh teman-teman, nyari tentang kontrasepsi tuh di mana ya??"

Pertanyaan tersebut diambil dari kehidupan nyata, dilontarkan oleh orang yang nyata, seseorang yang adalah mahasiswa fakultas kedokteran. Terus terang, saya kepingin menjawab: "DI BUKU MASAK!!"

Saudara-saudari pembaca yang budiman, rasanya anak SMP pun tahu, perihal kontrasepsi bisa diperoleh di dalam topik-topik yang membahas soal seks dan kehamilan. Bahasa halusnya, di buku/website ilmu reproduksi atau kebidanan dan kandungan. For real, kontrasepsi adalah satu dari banyak hal yang sudah tersebar di mana-mana saat ini: mulai dari televisi, majalah, leaflet puskesmas, sampai buku-buku ilmiah tingkat tinggi. Mestinya tidak sebegitu sulitnya bukan? Lagipula, apa gunanya internet? Mengingat pertukaran informasi zaman sekarang ini semakin menggebu-gebu dan nyaris tak terkendali, jangan-jangan anak Anda yang masih SD sudah lebih tahu tentang kontrasepsi daripada si mahasiswa FK di atas???

Lain masalahnya kalau pertanyaannya agak spesifik, misalnya: "Di mana ya mencari masalah resusitasi neonatus? Di buku pediatri koq ndak ada ya??" Ini masih bisa dimaklumi, karena kemungkinan topik tersebut akan lebih banyak ditemukan dalam buku neonatologi, yang adalah cabang sub-spesialis dari pediatri.

Aneh yah memang, tapi nyata dan ada.

Belum lagi, saya mengamati beberapa fenomena lain yang sama-sama mencengangkan. Fenomena yang terjadi dalam dunia [calon] sarjana. Tetapi TIDAK mencerminkan sarjana sejati. Contoh dialog tipikal: (kalimat merah adalah komentar saya)

Mengenai buku pegangan

Dosen: [menyarankan sebuah textbook]

X: "Doookk... bukunya susaaahh... bahasa Inggriiisss...." *lah bukannya pas daftar kuliah udah disuruh masukin skor TOEFL?*

Dosen: [menyarankan textbook yang sama tapi sudah diterjemahkan]

X: "Doookk... bukunya koq tebel amaaatt... maleess bacanyaaa... bahasanya juga susyyaaahh..." *<--- insert brain here*

Dosen: [menyarankan buku saku]

X: "Doookk... bukunya kurang lengkaaapp..." *ya iyalah yah!*

Ketika belajar...

Dosen: "Yak, jadi ada yang tahu kenapa ini dan itu bisa begitu?"

Kelas: [sunyi senyap]

Dosen: "Ga ada yang tau??"

Anak pintar: [menjawab, yang jawabannya cuma bisa dimengerti oleh anak2 pintar lainnya di kelas tersebut]

Dosen: [selamat, ga jadi jantungan] "Nah tuh, ada yang tau. Yang lain gimana???"

X: "Doookk.. kan itu GAK ADA DI SLIDE / HANDOUT (coret yang tidak perlu)!!!"

Mendekati ujian...

X: "Doookk... Kisi-kisi dooong!" *kisi jendela kali yeh*

Dosen: [ternyata cukup berbaik hati dan memberikan kisi-kisi]

X: "Dokter baiiikk deehh...!" [kemudian kisi-kisi disimpan dan hanya diedarkan di antara gengnya sendiri, yang ketahuan banget orang2nya mana2 aja]

Sesudah ujian...

X: "DOOOKK... KOQ KISI-KISINYA NDAK KLUAR??? Kan kita cuma belajar dari kisi-kisinya dokteerr...." *nanti klo ada pasien beneran datang dgn penyakit yg blom pernah dikuliahin, langsung ditolak dgn alasan: "maaf pak/bu, penyakit Anda nggak ada di slide/kisi-kisi..."*

=

Saya beneran pengen tahu, kalau jadi dosen dengan mahasiswa semacam itu, rasanya kayak apa yah? Dan enaknya mahasiswa demikian diapakan saja?

Tapi memang benar, mendapatkan gelar sarjana, meskipun gaya luar biasa, bukan selalu jaminan mutu. Sarjana yang nganggur juga banyak. Semuanya kembali pada karakteristik masing-masing: kemauan, kerja keras, jalan pikiran, dan kepandaian melihat kesempatan yang ada (mungkin ini yang disebut "keberuntungan" oleh banyak orang). Malahan saya mengenal segelintir orang dalam hidup saya yang saya kagumi; mereka tidak punya gelar sarjana, tetapi sifat dan sikap mereka sungguh mencerminkan sarjana sejati.

May your frontal lobe always stay functional.

~Anna


Read more...

Friday, 11 December 2009

Dove Shampoo Daily Therapy

Siapa yang tidak kenal Dove?

Saya pertama kali mengenal Dove sebagai sebuah merek sabun batangan, yang diklaim "berbeda" karena tidak membuat kulit kering dan tidak membuat pH kulit naik. Saya ingat saya pernah mencoba sabun Dove tersebut, tapi itu sudah lama sekali.

Perkenalan kedua saya dengan Dove adalah dengan Dove Shampoo Daily Therapy. Sebenarnya mama saya membelikan shampoo ini karena merek shampoo saya yang lama sudah tidak keluar di pasaran. Tadinya saya ragu-ragu karena di bayangan saya yang namanya Dove ya sabun. Agak aneh ada Dove shampoo. Tapi saya coba saja, karena toh cepat atau lambat saya tetap mesti keramas.

Hasilnya? WOW. Saya seketika terkagum-kagum dengan rambut saya sendiri. Begitu halus, wangi, dan ringan! Saya senang sampai ingin menari-nari rasanya. Jujur saya dulu sempat ilfil dengan produk-produk yang mengklaim dapat melembutkan rambut. Biasanya, yang terjadi adalah... benar rambut saya lembut, tetapi lembutnya "kempes", dan entah kenapa terasa berminyak di tangan, seperti lepek. Rambut saya yang alami bergelombang di bagian bawah (baru kelihatan kalau piara panjang) jadi ikut lurus seperti hasil rebonding, padahal justru saya paling tidak suka dengan rambut lurus rus rus semacam itu. Nah, Dove ternyata berhasil mempertahankan tekstur dan bentuk alami rambut saya, sekaligus membuatnya lebih ringan. Rambut cukup kaku untuk mudah ditata, dan cukup halus untuk tampak cantik dan bersinar.

Satu lagi keunggulan Dove yang bikin saya tergila-gila: bersih dan wanginya tahan lama! Betul-betul pascok untuk tipe rambut dilematis, yang sering tanggung dan nggak jelas. Ingat iklan-iklan shampoo di TV di mana model wanitanya sibuk menciumi rambutnya sendiri, menghirup dalam-dalam aroma yang menguar sambil matanya merem-melek keenakan? Ini adalah, menurut saya, gambaran yang Dove banget! Hehehe. Dove membantu memperbaiki mood saya seharian, saya jadi percaya diri melangkah bagaikan seorang ratu dengan mahkota bersinar-sinar! Dan tentu saja, saat-saat mandi dan keramas menjadi yang paling ditunggu-tunggu!

* Dove Shampoo Daily Therapy with protecting serum, for normal hair.

~Anna


Read more...

Amazing how far you can go...

...when you actually let yourself go.

As a follow-up to these posts here and here, I hereby declare the title of my make-believe research:

"Effect of Anthocyanin Cy-3-sambubioside on Serum ApolipoproteinB-100 Concentration in Hyperlipidemic Rats"

I really hope they're satisfied, because I am (surprisingly). The presentation went well too, the examiner didn't ask me too many questions because he said it was all "well-written" and "clear enough for me". HOO to the RAY!!

Oh, and it seems that he didn't notice I wrote "rabbits" instead of "rats" on some of the pages inside... I just discovered it the night before. But looks like I'm forgiven; the grace is upon me [just in time!]

For the curious minds, anthocyanin is a group of antioxidants found in the flower Roselle (Hibiscus sabdariffa L.). Roselle's calyces have long been used as traditional herbal medicine, claimed to have various beneficial health effects. In my research proposal, I decided to investigate into the effect of Cyanidine-3-sambubioside (one of 5 types of Roselle's anthocyanin) on serum apoB-100 (the marker for low-density lipoprotein/LDL concentration).

Too bad that my proposal would never see the light of actual research.

Photo of Roselle and its hot-water infusion. Very easy to make, just like a cup noodle really. Tastes sour-sweet-ish, one of a kind thing.


Gone my sleepless nights!! with a huge pile of research papers and cardiology/lipidology books!! I WANT TO BITE SOMETHING.

~Anna


Read more...