
Apa itu, "sarjana yang bukan sarjana"?
Bagaimana mungkin "sarjana bukan sarjana"?
Permenungan kali ini didapat dari sebuah nasehat kecil dalam keluarga saya yang didapat dari mama: "Sarjana itu orang yang tahu harus mencari di mana." Katanya, mama saya mendapatkan petuah ini dari dosennya dulu, dan sekarang ini saya telah menyadari kebenarannya.
"Sarjana" menurut KBBI adalah (1) orang pandai (ahli ilmu pengetahuan); (2) gelar strata satu yang dicapai oleh seseorang yang telah menamatkan pendidikan tingkat terakhir di perguruan tinggi. Inilah definisi yang umum digunakan dan dimengerti sehari-hari ketika kita menyebut seseorang "sarjana".
"Sarjana" dalam arti filosofis mempunyai arti yang sedikit berbeda. "Sarjana" adalah orang yang tahu harus mencari di mana. Dia tidak harus (may or may not be) pandai menurut ukuran akademis. Dia tidak harus mempunyai gelar sarjana. Dia tidak perlu tahu segala. Akan tetapi, dia tahu di mana dan/atau bagaimana memperoleh informasi tertentu, bahkan mungkin saja dia dapat mengarahkan teman-temannya yang lain meskipun dia sendiri tidak "tahu". Jujur, saya tidak tahu ini filosofinya siapa, apakah murni filosofi pemikiran dosennya mama saya itu, tetapi harus diakui cukup menarik.
Misalnya, seorang sarjana sejati (dalam arti filosofis), jika ditanya di mana membeli sepatu, maka ia akan menjawab: "Di toko sepatu." Jika ditanya bagaimana cara memasak, maka meskipun ia tidak mengerti persis, ia akan menjawab, "Yang pasti harus ada wadahnya dan ada sesuatu yang panas, entah api, bara, atau sinar matahari yang cukup."
Terlalu sederhana?
Bagaimana dengan ini:
X: "Eh teman-teman, nyari tentang kontrasepsi tuh di mana ya??"
Pertanyaan tersebut diambil dari kehidupan nyata, dilontarkan oleh orang yang nyata, seseorang yang adalah mahasiswa fakultas kedokteran. Terus terang, saya kepingin menjawab: "DI BUKU MASAK!!"
Saudara-saudari pembaca yang budiman, rasanya anak SMP pun tahu, perihal kontrasepsi bisa diperoleh di dalam topik-topik yang membahas soal seks dan kehamilan. Bahasa halusnya, di buku/website ilmu reproduksi atau kebidanan dan kandungan. For real, kontrasepsi adalah satu dari banyak hal yang sudah tersebar di mana-mana saat ini: mulai dari televisi, majalah, leaflet puskesmas, sampai buku-buku ilmiah tingkat tinggi. Mestinya tidak sebegitu sulitnya bukan? Lagipula, apa gunanya internet? Mengingat pertukaran informasi zaman sekarang ini semakin menggebu-gebu dan nyaris tak terkendali, jangan-jangan anak Anda yang masih SD sudah lebih tahu tentang kontrasepsi daripada si mahasiswa FK di atas???
Lain masalahnya kalau pertanyaannya agak spesifik, misalnya: "Di mana ya mencari masalah resusitasi neonatus? Di buku pediatri koq ndak ada ya??" Ini masih bisa dimaklumi, karena kemungkinan topik tersebut akan lebih banyak ditemukan dalam buku neonatologi, yang adalah cabang sub-spesialis dari pediatri.
Aneh yah memang, tapi nyata dan ada.
Belum lagi, saya mengamati beberapa fenomena lain yang sama-sama mencengangkan. Fenomena yang terjadi dalam dunia [calon] sarjana. Tetapi TIDAK mencerminkan sarjana sejati. Contoh dialog tipikal: (kalimat merah adalah komentar saya)
Mengenai buku pegangan
Dosen: [menyarankan sebuah textbook]
X: "Doookk... bukunya susaaahh... bahasa Inggriiisss...." *lah bukannya pas daftar kuliah udah disuruh masukin skor TOEFL?*
Dosen: [menyarankan textbook yang sama tapi sudah diterjemahkan]
X: "Doookk... bukunya koq tebel amaaatt... maleess bacanyaaa... bahasanya juga susyyaaahh..." *<--- insert brain here*
Dosen: [menyarankan buku saku]
X: "Doookk... bukunya kurang lengkaaapp..." *ya iyalah yah!*
Ketika belajar...
Dosen: "Yak, jadi ada yang tahu kenapa ini dan itu bisa begitu?"
Kelas: [sunyi senyap]
Dosen: "Ga ada yang tau??"
Anak pintar: [menjawab, yang jawabannya cuma bisa dimengerti oleh anak2 pintar lainnya di kelas tersebut]
Dosen: [selamat, ga jadi jantungan] "Nah tuh, ada yang tau. Yang lain gimana???"
X: "Doookk.. kan itu GAK ADA DI SLIDE / HANDOUT (coret yang tidak perlu)!!!"
Mendekati ujian...
X: "Doookk... Kisi-kisi dooong!" *kisi jendela kali yeh*
Dosen: [ternyata cukup berbaik hati dan memberikan kisi-kisi]
X: "Dokter baiiikk deehh...!" [kemudian kisi-kisi disimpan dan hanya diedarkan di antara gengnya sendiri, yang ketahuan banget orang2nya mana2 aja]
Sesudah ujian...
X: "DOOOKK... KOQ KISI-KISINYA NDAK KLUAR??? Kan kita cuma belajar dari kisi-kisinya dokteerr...." *nanti klo ada pasien beneran datang dgn penyakit yg blom pernah dikuliahin, langsung ditolak dgn alasan: "maaf pak/bu, penyakit Anda nggak ada di slide/kisi-kisi..."*
=
Saya beneran pengen tahu, kalau jadi dosen dengan mahasiswa semacam itu, rasanya kayak apa yah? Dan enaknya mahasiswa demikian diapakan saja?
Tapi memang benar, mendapatkan gelar sarjana, meskipun gaya luar biasa, bukan selalu jaminan mutu. Sarjana yang nganggur juga banyak. Semuanya kembali pada karakteristik masing-masing: kemauan, kerja keras, jalan pikiran, dan kepandaian melihat kesempatan yang ada (mungkin ini yang disebut "keberuntungan" oleh banyak orang). Malahan saya mengenal segelintir orang dalam hidup saya yang saya kagumi; mereka tidak punya gelar sarjana, tetapi sifat dan sikap mereka sungguh mencerminkan sarjana sejati.
May your frontal lobe always stay functional.
~Anna
Read more...