
Inilah karya pertama Dewi Lestari (Dee) yang saya baca, setelah mengikuti tulisan-tulisannya yang bernas di blognya (tapi belum pernah membaca tulisan cetaknya. What a shame). Yang saya baca dari ulasan orang-orang, "Perahu Kertas" sedikit berbeda dari buku-buku Dee sebelumnya, lebih ringan dan agak berbau chicklit, namun masih memiliki penjiwaan dan penceritaan khas Dee.
Setelah saya baca, saya harus mengatakan, saya tidak setuju. Paling tidak, tidak setuju dengan pendapat bahwa "Perahu Kertas" berbau chicklit. Memang isinya tentang kisah cinta, tetapi banyak sekali kisah cinta yang tidak tergolong chicklit, seperti Romeo and Juliet, Love in the Time of Cholera, Rama Sinta, dan buku-buku Jane Austen. "Perahu Kertas" adalah salah satunya.
"Perahu Kertas" bercerita tentang cinta sejati antara tokoh Keenan dan Kugy. Kugy yang gemar menulis dongeng anak-anak bertemu dengan Keenan yang pelukis handal secara tidak sengaja di stasiun. Sejak awal sudah nyata kecocokan antara mereka berdua, terutama karena Keenan dapat mengimbangi imajinasi gila Kugy, dan Kugy mendukung sepenuh hati mimpi Keenan yang ingin bisa mandiri dari melukis. Kedua-duanya pun bisa saling menginspirasi satu sama lain.
Shakespeare pernah berujar: "The road to true love never did run smooth". Demikianlah yang terjadi pada Keenan dan Kugy. Hambatan demi hambatan terus berdatangan: pacar masing-masing, kesibukan, dan karier. Berulang kali mereka mendekat lalu menjauh, kadang-kadang begitu dekat, dan nyaris saja... Namun muncul sesuatu yang lain yang memisahkan mereka lagi.
Inti dari "Perahu Kertas" adalah mimpi, yaitu sulitnya berpegang dan menghidupkan mimpi-mimpi kita. Seringkali kita harus berkorban. Seringkali kita mesti berani meninggalkan comfort zone an terbang menghadang ketidakpastian. Dan seringkali, tak terelakkan pula sayatan-sayatan pada hati. Semua itu, sering, demi memecahkan dilema besar: Jika kita mencoba meraih mimpi, kita tak pernah tahu apakah kita akan berhasil. Jika tak mencoba, kita pun tak akan pernah tahu juga. Inilah Kugy dan Keenan, masing-masing dengan mimpinya, bertekad melangkah sejauh takdir mengizinkan.
Tidak cuma itu. Dee memperkuat ceritanya dengan banyak perenungan lain. Cinta sejati versus cinta yang dibuat-buat. Pergaulan sosial. Persahabatan. Keberanian untuk merelakan. Tak ada satupun halaman yang membosankan. Semuanya apik, semuanya cantik, semuanya menyentuh hati. Dee berhasil merangkai kisah yang mampu membangkitkan kenangan-kenangan pribadi dan harapan-harapan hidup, yang mungkin telah sirna atau sempat dipendam dalam kepahitan.
Saran saya, jangan melihat "Perahu Kertas" dari sisi romansanya saja. Dalamilah karakter-karakternya yang menarik. Carilah kristal di dalamnya.
~Anna
Read more...



